Lynx menatap Leena dengan sorot mata yang serius di bawah cahaya redup api unggun kecil mereka. Keputusannya sudah bulat.

“Leena, besok aku akan menyusul Sherly. Kamu tunggulah disini. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja di luar sana.”

Leena langsung menghentikan kegiatannya, matanya melebar. “Aku ikut! Jangan berpikir aku akan membiarkanmu pergi sendirian.”

Lynx menggeleng tegas. “Leena, dengar aku. Ini bukan soal keberanian. Kalau aku pergi sendiri, aku lebih mudah melarikan diri jika sesuatu terjadi. Jika kita berdua keluar dari sini, siapa yang menjaga gua? Bagaimana jika Sherly berhasil kembali, tapi malah terkena jebakan kita yang sekarang jauh lebih mematikan?”

Leena terdiam, menggigit bibirnya dengan gelisah. Lynx melanjutkan, mencoba meredam amarah yang tampak membara di wajah Leena.

"Aku sengaja menunda pencarian Sherly selama ini karena ingin membangun pertahanan lebih kuat untuk memastikan dirimu aman terlebih dahulu disini, agar aku juga bisa lebih tenang mengejar Sherly." Lanjut Lynx.

Leena akhirnya menghela napas panjang. Ia tahu Lynx benar. Meskipun hatinya berat, ia mengangguk dengan enggan. "Baiklah, tapi hati-hati. Jangan melakukan hal bodoh. Dan jika kamu tidak kembali…" Suaranya tercekat.

"Aku akan kembali," jawab Lynx tegas. Besok, aku ingin kamu membuat tempat persembunyian di dalam gua, agar saat ada bahaya, kamu bisa bersembunyi ditempat itu."

Lynx lalu menjelaskan bagaimana tempat persembunyian yang aman, untuk bisa dibuat Leena. Mereka membangun pertahanan di gua itu sebenarnya terdiri dari dua bagian, yaitu bagian besar yang mereka perbesar dengan bambu lalu di tumpuk dengan batu dan bermacam ranting sehingga terlihat seperti gua alami dan bagian dalam terdapat gua asli yang mereka temukan saat hari pertama ke tempat ini. Karena sempit, mereka memperbesarnya hingga seperti sekarang. Lynx ingin Leena membuat penutup kembali di bagian dalam agar saat bersembunyi, dia bisa menutupnya dengan baik tanpa ketahuan.

"Baiklah Lynx, aku akan mengikuti apa rencanamu. Tapi kuharap kamu tau, aku menunggumu." Kata Leena sambil menahan air mata. Dia tahu mereka harus mengambil keputusan karena tidak bisa meninggalkan Sherly.

Keesokan paginya, Lynx mempersiapkan perlengkapannya. Ia membawa parang, pisau kecil, ramuan,  beberapa panah dengan mata yang baru saja mereka buat, serta tas kecil berisi makanan kering dan air. Sebelum pergi, ia memeluk Leena singkat, sesuatu yang jarang ia lakukan.

“Jaga dirimu, Leena. Kalau sesuatu terjadi, sembunyilah. Jangan keluar dari gua untuk apapun,” katanya sebelum melangkah keluar.

Leena mengangguk, menahan air mata yang ingin jatuh. “Kamu juga, Lynx.” Lalu Leena memeluk dan mencium Lynx.

Lynx kaget, namun mereka tahu, apapun bisa terjadi, selain itu mereka sudah lama selalu bersama sehingga rasa khawatir sangat kuat mereka rasakan.

Lynx mulai menyusuri jejak yang mereka temukan beberapa hari lalu. Ia sudah semakin terbiasa membaca jejak di tanah—bekas pijakan kaki, patahan ranting, hingga dedaunan yang terinjak. Jejak itu memudar seiring waktu, tapi cukup baginya untuk mendapatkan arah kasar perjalanan Sherly.

Saat matahari mulai meninggi, Lynx tiba di area yang lebih rapat dengan pepohonan besar dan semak-semak lebat. Tiba-tiba, ia mendengar suara-suara mencurigakan dari arah depan. Gerakannya langsung berhenti. Ia merendahkan tubuhnya, bersembunyi di balik semak yang cukup tinggi.

Di kejauhan, ia melihat tujuh orang asing dengan tubuh besar dan kekar, hanya mengenakan celana dari dedaunan kasar. Tubuh mereka dipenuhi tato yang rumit, melingkar dari lengan hingga dada mereka yang telanjang. Leher mereka dihiasi kalung dari taring dan tengkorak kecil yang tampak seperti milik binatang. Mereka membawa tombak kayu panjang yang dihiasi bulu-bulu dan tali dari kulit.

Di tengah kelompok itu, seorang wanita ditarik paksa dengan tali yang melilit pergelangan tangannya. Lynx menahan napas saat melihat kondisi wanita tersebut. Gadis itu tidak mengenakan pakaian sehelai pun sehingga luka goresan di seluruh tubuhnya terlihat. Tubuhnya kurus kering, dan wajahnya pucat, rambut panjangnya kotor dan kusut, sebagian bercampur darah kering. Lynx dapat mengenali gadis itu adalah Sherly.

Wanita itu terhuyung-huyung, terpaksa mengikuti langkah para pria kekar yang menyeretnya tanpa ampun. Kakinya terlihat lecet parah, bahkan satu kakinya tampak luka berdarah seperti bekas goresan benda tajam. Sesekali ia mencoba memberontak, tapi setiap kali ia melakukannya, salah satu pria itu menendang atau memukulnya dengan gagang tombak, membuatnya terjatuh dan mengerang kesakitan.

“Diam!” teriak salah satu pria dengan suara kasar, sambil menarik tali yang melilit wanita itu hingga ia terseret di tanah. Wanita itu menangis pelan, tapi tidak berteriak, seolah tahu bahwa suaranya tidak akan berarti apa-apa.

Lynx mengepalkan tangannya, darahnya mendidih melihat pemandangan itu. Namun ia tahu, menyerang mereka sekarang adalah keputusan bodoh. Ia hanya seorang diri, dan mereka adalah tujuh orang yang terlihat terlatih untuk bertarung.

Dengan hati-hati, Lynx terus mengintai, memastikan dirinya tidak terlihat. Ia memutuskan untuk mengikuti kelompok itu, berharap bisa menemukan lebih banyak petunjuk—tentang siapa mereka, apa yang mereka inginkan, dan mencari cara untuk menyelamatkan Sherly.

Dalam hati, ia berjanji. Aku akan menyelamatkanmu. Apapun yang terjadi.

Lynx mengikuti kelompok itu dengan hati-hati, menjaga jarak sambil mengawasi setiap langkahnya agar tidak menimbulkan suara. Ia tetap bersembunyi di balik pepohonan, semak-semak, atau batu besar, memastikan mereka tidak menyadarinya.

Saat sinar matahari mulai redup, kelompok itu akhirnya tiba di sebuah area terbuka yang dipenuhi batu-batu besar dan rerumputan tinggi. Salah satu pria, yang tampak sebagai pemimpin dengan kalung taring terbesar, memberi isyarat pada yang lain untuk berhenti. Mereka mulai mendirikan semacam perkemahan sederhana, menggunakan cabang-cabang kayu dan dedaunan lebar untuk membuat peneduh sementara.

Sherly yang mereka seret, dilemparkan ke tanah dengan kasar. Ia menggeliat kesakitan, menangis, tetapi tidak melawan. Lynx merasakan amarahnya memuncak, tetapi ia tahu bahwa ia harus cerdas dalam bertindak.

Dari persembunyiannya di balik semak, Lynx mengamati sekeliling. Pria-pria itu tampak santai, beberapa duduk di sekitar, sementara yang lain mulai memeriksa senjata mereka atau mengunyah sesuatu dari kantong kecil. Sementara itu, Sherly dibiarkan terikat di tanah, dengan tali yang melilit tangannya dan kakinya.

Ia mengambil napas dalam-dalam, merencanakan langkahnya. Serangan langsung akan membuatnya kalah jumlah. Namun, jika ia bisa memanfaatkan kekacauan, mungkin ada peluang.

Lynx memutuskan untuk menunggu hingga malam tiba. Ia tidak bisa melawan tujuh orang sekaligus dalam kondisi terang, tapi malam akan memberinya keuntungan. Sambil menunggu, ia bergerak perlahan di sekitar area perkemahan, mencari tanaman  yang ia ketahui bisa menyebabkan halusinasi jika dibakar.

Setelah mencari di sekitar tempat itu, Lynx berhasil menemukan tanaman daun ungu. Di hutan ini ada banyak tanaman berwarna ungu, namun tanaman ini memiliki perbedaan yang sangat mencolok, dari daun hingga bunga berwarna ungu, khususnya pada bagian bunganya memiliki warna ungu yang terang, sejenis tanaman salvia divinorum. Lynx memetik beberapa lembar, lalu kembali ke posisinya di balik semak besar. Ia mengamati kelompok itu sepanjang sore, memperhatikan pola mereka. Mereka tampaknya bergantian berjaga di sekitar api unggun, tetapi ketidakwaspadaan mulai terlihat ketika malam tiba.

Ketika akhirnya langit gelap sepenuhnya, Lynx memanfaatkan momen itu. Ia merangkak mendekati api unggun dengan busur di tangannya. Ia memasang daun ungu itu pada ujung panah, membidiknya ke api unggun di tengah perkemahan.

Panah itu melesat tanpa suara, mendarat tepat di bara api. Daun ungu segera terbakar, mengeluarkan asap tebal yang membaur dengan udara malam. Dalam beberapa menit, efeknya mulai terlihat. Para pria kekar itu mulai berbicara sendiri, beberapa tertawa tanpa alasan, sementara yang lain terlihat bingung, memandang sekitar seolah melihat sesuatu yang tidak nyata.

Pemimpin mereka mencoba memerintahkan sesuatu, tetapi suaranya menggema seperti tawa yang aneh. Salah satu dari mereka bahkan mulai menari liar di sekitar api. Lynx tahu inilah saatnya.

Ia menyelinap menuju Sherly, yang masih terikat di sisi perkemahan. Lynx berbisik pelan, mencoba menenangkan wanita itu. “Sherly, aku datang untuk menyelamatkanmu. Jangan bersuara.”

Namun, Sherly yang juga terpapar asap halusinogen mulai memberontak. Matanya liar, seolah tidak mengenali Lynx. Ia meronta, berusaha menjauh, tetapi terlalu lemah untuk melawan dengan efektif. Lynx tidak punya pilihan lain. Ia mengambil ramuan dari tasnya dan mengeluarkan cairan yang memiliki efek bius, yang biasa mereka oleskan di senjata saat berburu. Dengan hati-hati, ia mengoleskan ke tangannya lalu menutup mulut Sherly dengan tangan.

“Maafkan aku, Sherly,” bisik Lynx saat wanita itu akhirnya terkulai pingsan.

Sherly yang kini tidak sadarkan diri, tampak rapuh tanpa sehelai benang di tubuhnya. Lynx segera menggendongnya dengan hati-hati.

Ketika ia mulai menjauh dari perkemahan, teriakan menggema di belakangnya. Lynx berbalik sekilas dan melihat dua orang dari mereka saling menusuk rekannya dengan tombak. Efek halusinasi telah membuat mereka kehilangan akal. Lynx memanfaatkan kekacauan itu untuk melarikan diri.

Setelah merasa jauh, karena kondisi gelap dan tidak mengenal area dengan baik, Lynx menurunkan Sherly untuk membuat obor agar dapat menerangi jalan mereka. Setelah membuat obor, Lynx memperhatikan kondisi Sherly yang terlihat sangat kurus dan terlihat memar di banyak bagian tubuhnya. Di kedua bukit kembarnya terlihat luka bekas cakaran yang sudah mengering. Pandangan mata Lynx tertahan saat melihat bagian bawah, terlihat bagian intim Sherly yang sangat lebat membuat Lynx terbayang Leena, "apakah Leena juga sepanjang ini sekarang ya, sudah lama tidak melihatnya." Kata Lynx didalam hati.

Pengalaman mereka selama di pulau, membuat rasa sayang Lynx ke Leena semakin besar. Meski saat ini dia hanya berdua dengan Sherly dan memiliki kesempatan tanpa diketahui orang lain, Lynx tetap tidak memiliki niat jahat untuk memanfaatkan, meskipun dia tidak bisa memungkiri menikmati pemandangan di depannya, namun hal tersebut tidak membuatnya terpengaruh seperti halnya saat dia bersama Leena.

Segera Lynx mengangkat dan menggendong Sherly lagi di bahunya dan segera mencapai gua sebelum orang-orang yang menangkap Sherly sadar. Lynx memiliki rencana untuk menjebak dan menangkap orang-orang tersebut untuk mendapatkan informasi.

Saat mendekati gua, Lynx memastikan dirinya berjalan menuju kearah jebakan yang telah ia dan Leena siapkan, agar orang-orang yang memburunya mengikuti dan terkena jebakan.

Setelah perjalanan yang berat, Lynx tiba di gua saat fajar mulai merekah. Leena berlari keluar begitu melihat mereka.

“Sherly! Apa yang terjadi padanya?” tanya Leena panik.

“Dia terkena asap halusinogen yang kupakai untuk menyelamatkannya dari orang-orang yang menangkapnya, karena itu aku memberinya obat bius agar bisa membawanya kesini. Dia pingsan sekarang, tapi aman. Aku butuh kamu menjaga dia. Bawa dia ke dalam dan tetap waspada.”

Leena mengangguk, meskipun matanya penuh kekhawatiran. “Apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku akan bersiaga di dekat jebakan. Aku sengaja mengarahkan mereka ke arah jebakan jika mengejar, karena aku tidak bisa menghadapinya secara langsung. Jadi jika mereka mengejar kita, jebakan itu akan menjadi perlawanan pertama kita.”

Setelah memastikan Leena dan Sherly aman, Lynx menutupi pintu gua dengan dedaunan dan ranting kering agar gua lebih tersamarkan. Lalu Lynx berjaga di dekat jebakan dengan parang dan tombak di tangannya.

Beberapa jam kemudian, suara langkah berat dan jeritan keras menggema di sekitar gua. Lynx yang telah bersiap dengan tombaknya melihat lima pria kekar berjalan masuk ke area jebakan mereka. Mereka bergerak dengan hati-hati, tetapi jebakan yang Lynx dan Leena pasang jauh lebih baik dari sebelumnya sehingga mereka tidak mengetahui ada jebakan di area tersebut, .

Yang pertama jatuh ke lubang yang ditutupi dedaunan. Tombak tajam yang diolesi obat bius di dasar lubang menembus kaki dan pahanya. Ia meraung kesakitan sebelum akhirnya pingsan karena kehilangan darah dan pengaruh obat.

Yang kedua terpancing oleh jebakan tali yang memicu busur otomatis. Sebuah panah melesat, menembus bahunya dan menjatuhkannya ke tanah dengan keras. Efek obat yang ada pada panah tersebut langsung bekerja tidak lama kemudian, sehingga membuatnya tertidur.

Dua lainnya mencoba membantu, tetapi mereka tidak menyadari jebakan tali yang lain. Tali itu melilit kakinya, menarik mereka ke atas dan menggantung terbalik. Salah satunya mencoba meraih pisau di pinggang, tetapi terlalu terlambat—sebuah tombak yang diatur oleh mekanisme jebakan meluncur, menghantam rusuknya hingga ia ambruk, pingsan.

Yang terakhir, pemimpin kelompok yang tersisa, mencoba melarikan diri, tetapi menginjak jebakan yang sama seperti temannya. Dengan kaki terluka dan pengaruh obat bius, pemimpin kelompok itu berusaha untuk bangkit dan bersiap melawan, namun Lynx dari belakang langsung memukulkan batang tombaknya dengan keras ke punggung pimpinan kelompok itu hingga pingsan.

Lynx segera bergerak cepat. Ia memastikan setiap orang yang masih hidup telah pingsan sebelum mengikat mereka dengan tali kulit yang kuat lalu menyeretnya ke dekat gua. Ia tidak ingin mengambil risiko mereka bangun dan menyerang.

Setelah memastikan semua aman, ia masuk ke dalam gua, menemukan Leena yang menjaga Sherly dengan hati-hati. Lynx meletakkan tombaknya, menatap Leena dengan wajah lelah namun tegas.

“Kita selamat untuk saat ini. Tapi kita belum selesai. Bersiaplah untuk apa pun,” kata Lynx, matanya penuh kewaspadaan.

"Apakah suara keributan tadi adalah mereka penduduk asli pulau ini?" tanya Leena menyelidik.

"Aku tidak tahu, kemungkinan seperti itu. Aku sudah mengikat mereka diluar, kita akan interogasi mereka untuk mendapatkan informasi." Kata Lynx menjelaskan.

"Lynx, aku takut." Leena terlihat cemas dan badannya gemetar. Dia belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Ini berbeda dengan menghadapi binatang buas. Yang mereka hadapi saat ini adalah sesama manusia.

Leena keluar dari gua dan memperhatikan mereka. Terlihat badan mereka yang besar dengan berbagai tato, serta hiasan dari tengkorak dan tulang hewan menghiasi leher mereka.

"Apakah mereka semua sudah tertangkap?" Tanya Leena dengan sorot mata khawatir dan ketakutan.

"Mereka ada bertujuh, aku melihat dua diantaranya saling menusuk karena efek halusinasi," kata Lynx menjelaskan.

Sementara itu di dalam ruangan, Sherly mulai membuka matanya perlahan. Ia mengerjap beberapa kali, matanya yang sembab berusaha menyesuaikan dengan cahaya di dalam gua. Sherly seperti orang bingung, berjalan menuju luar gua. Lynx dan Leena yang melihat segera menghampirinya, lega melihatnya sadar.

“Sherly, kau aman sekarang,” kata Leena lembut, berusaha menenangkan.

Namun, bukannya menjawab, Sherly langsung mengamati sekeliling dengan panik. Pandangan matanya mendadak tertuju pada lima pria kekar yang terikat di salah satu sudut gua. Sebagian dari mereka memiliki wajah berlumuran darah, meski mereka tidak bergerak.

“Itu… mereka! Mereka!” Sherly berteriak histeris, tubuhnya gemetar hebat.

“Sherly, tenang! Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka terikat—” kata Lynx, mencoba mendekat.

Tetapi Sherly tidak mendengarkan. Ia meraih senjata salah satu pria yang dilemparkan Lynx ke dekat tumpukan barang-barang disekitar gua, sebuah tombak kayu dengan ujung yang tajam. Dengan gerakan cepat, ia berlari ke arah pria yang terikat dan tanpa ragu menusukkan tombak itu ke dadanya.

“Sherly, hentikan!” teriak Leena.

Lynx bergerak untuk menghentikannya, tetapi sudah terlambat. Pria pertama terkulai, napasnya terhenti seketika. Sherly mengarahkan tombak itu ke pria berikutnya, matanya dipenuhi kebencian yang membara. Lynx terlambat meraih tangannya, Pria itu tewas karena lehernya tertusuk tombak Sherly.

Lynx segera mengambil tombak dari tangan Sherly tepat sebelum ia bisa melancarkan serangan berikutnya.

“Cukup, Sherly!” Lynx mengguncang bahunya dengan keras.

Sherly memberontak, lalu dia mengambil parang yang ada di dekat Lynx dan menusukkannya ke pria ketiga dan melukai pria keempat.

Karena terdapat racun mematikan pada parang tersebut, tidak lama kemudian kedua orang tersebut tewas keracunan. Hanya tersisa pimpinan kelompok mereka.

Lynx dan Leena melihat parang beracun di tangan Sherly, tidak berani bertindak gegabah. Mereka tidak memiliki penawar untuk racun tersebut.

Air mata Sherly mengalir deras. “Mereka… mereka pantas mati! Kau tidak tahu apa yang mereka lakukan padaku!” suaranya pecah, penuh amarah dan kepedihan.

Leena, yang juga terguncang oleh kejadian itu, mencoba mendekat. “Sherly, kami tahu kau trauma. Tapi membunuh mereka tidak akan menghapus apa yang terjadi. Mereka sudah tidak berdaya. Kau harus tenang.”

Namun, Sherly tidak mendengarkan. Dia menusukkan parang tersebut ke dada pimpinan kelompok hingga pria itupun tewas terkena efek dari racun dan luka yang dideritanya.

Kemudian Sherly jatuh ke lantai gua,melepas parangnya sambil menangis tersedu-sedu. Leena memeluknya dengan lembut, sementara Lynx mengamankan parang lalu berdiri di dekat pintu gua, wajahnya muram.

“Kita harus segera menyelesaikan ini,” gumam Lynx pada dirinya sendiri.

Lynx dengan perasaan bersalah karena telah membunuh manusia, berusaha meyakinkan dirinya bahwa mereka hanya mempertahankan diri dan harus melindungi yang lainnya.